Setumpuk 'PR' Menanti di Tangan Nicke, Bos Baru Pertamina

Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah melalui Kementerian BUMN menetapkan Nicke Widyawati sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero). Jabatan sebagai orang nomor wahid di perusahaan minyak terbesar di Indonesia ini bukan lah sesuatu yang mudah. Ada banyak pekerjaan rumah (PR) yang menanti campur tangan Nicke.

Dari sektor hulu, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan Pertamina untuk mempertebal investasi di Tanah Air. Sebagai sumber daya fosil, minyak akan habis apabila perusahaan cuma getol menyedot dari perut bumi tanpa upaya eksplorasi cadangan baru.

"Daripada Pertamina investasi ke Irak, ke Aljazair, lebih baik di dalam negeri. Blok Rokan nanti diambil alih, Blok Mahakam sudah diambil alih. Di Papua juga ada (yang diambil alih)," ujarnya, Rabu (29/8).


Permintaan JK ini beralasan. Jika Pertamina memperkuat sektor hulu, maka bukan tidak mungkin produksi minyak dan gas akan meningkat.

Lihatlah, realisasi produksi migas Januari-Juli 2018 menanjak 30,8 persen menjadi 907 ribu barel (boepd) dibandingkan pencapaian sepanjang tahun lalu.

Khusus untuk minyak, pada periode yang sama, realisasinya mencapai 380 ribu barel per hari (bph) atau naik 11,11 persen dibanding tahun lalu.

Sementara, untuk gas, produksinya mencapai 3.056 MMSCFD atau melesat jauh apabila dibandingkan tahun lalu yang hanya 2.035 MMSCFD.


Kenaikan produksi migas itu tak terlepas dari semakin banyaknya blok migas yang dikelola oleh perseroan. Berdasarkan catatan, tahun lalu, perseroan mengambil alih Blok ONWJ dan awal tahun ini mengelola Blok Mahakam yang memproduksi minyak lebih dari 40 ribu bph.

Tak cuma itu, perseroan juga akan mengelolan delapan blok terminasi lainnya. Selain itu, perseroan juga akan menjadi operator baru salah satu blok migas terbesar di Indonesia, yaitu Blok Rokan, setelah masa kontrak operator existing PT Chevron Pacific Indonesia habis pada 2021 mendatang.

Memang, pengelolaan blok migas butuh investasi yang besar. Untuk mengelola Blok Rokan saja, dibutuhkan setidaknya US$70 miliar untuk 20 tahun. Angga itu belum termasuk biaya pengembangan teknologi pengurasan minyak tingkat lanjut (EOR) yang nilainya tak sedikit.

PR Nicke lainnya, yakni tantangan memperbaiki kinerja keuangan perseroan. Tahun lalu, laba perseroan tercatat turun 19,3 persen, yaitu dari US$3,16 milar pada 2016 menjadi US$2,15 miliar.

Setumpuk 'PR' Menanti di Tangan Nicke, Bos Baru PertaminaNicke Widyawati ditetapkan sebagai Direktur Utama Pertamina oleh Kementerian BUMN pada Rabu (29/8). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja).

Biang keladi merosotnya laba, menurut laporan keuangan perseroan, karena kenaikan beban pokok penjualan dan beban langsung yang ditimbulkan dari aktivitas impor produk minyak dan solar.

Wajar jika pemerintah meminta Pertamina membeli minyak produksi di dalam negeri dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Para produsen minyak ini biasanya mengekspor hingga 225 ribu bph.

Bahkan, Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menilai kebijakan ini akan menimbulkan efisiensi bagi perseroan. Maklum, impor minyak mentah perseroan selama ini bisa mencapai 400 ribu bph.

"Bagi Pertamina, relatif lebih efisien, karena minimal akan menghemat biaya transportasi," tutur dia.


Namun, dibutuhkan kepiawaian bos baru Pertamina untuk 'tawar menawar' dengan masing-masing produsen minyak yang akan menjual produksinya ke perseroan.

Di sisi lain, perseroan juga harus memastikan kilang di dalam negeri mampu mengolah produksi minyak mentah yang dihasilkan. Caranya dengan mempercepat peningkatan kapasitas kilang dan pembangunan kilang baru.

Saat ini yang sudah dalam perencanaan perseroan adalah proyek perbaikan kapasitas dan kompleksitas kilang (RDMP) di Balikpapan. Kilang ini akan mengerek produksi dari 230 ribu bph menjadi 360 ribu bph pada 2019 nanti. Kilang ini juga akan menghasilkan produk yang kualitasnya meningkat dari Euro II ke Euro IV pada 2022.

Selain itu, perseroan juga akan membangun kilang baru di Tuban dan kilang di Cilacap. "Kebetulan, saat ini, Pertamina sedang melaksanakan proyek RDMP kilang-kilang mereka. Ada kemungkinan, ada penyesuaian agar semakin banyak jenis minyak mentah yang bisa diserap mereka," jelas Komaidi.


Tapi, apakah PR Nicke berhenti di sana? Tidak. Deputi Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengingatkan Pertamina memiliki PR untuk mempercepat implementasi pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT).

Salah satunya, sambung Fajar, dengan memuluskan program biodiesel 20 persen yang diamanatkan pemerintah.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Djoko Siswanto meyakini Nicke mampu mengemban tugas dan menjadi mitra kerja pemerintah yang baik melihat kinerjanya selama ini. Pada periode mudik lebaran kemarin, Nicke berhasil menjaga ketersediaan pasokan BBM kepada masyarakat.

"Perempuan itu kalau mengambil keputusan kritis pasti bertanya ke suaminya. Jadi, dia (Nicke) pasti akan bertanya ke Direktur Jenderal Migas," tukas Djoko seraya bercanda.


(bir)

Let's block ads! (Why?)

Belum ada Komentar untuk "Setumpuk 'PR' Menanti di Tangan Nicke, Bos Baru Pertamina"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel