Saham CPO dan Perbankan Gugah Selera Investasi di Bursa Saham

Jakarta, CNN Indonesia -- Jelang implementasi kebijakan pencampuran biodiesel sebesar 20 persen dari Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar (B-20) nonsubsidi (Public Service Obligation/PSO) pada 1 September 2018 nanti menjadi berkah bagi saham minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO).

Rencana penerapan B20 untuk nonsubsidi sebenarnya telah menjadi sentimen positif bagi emiten CPO sejak pemerintah mengumbar kebijakan terkait sejak beberapa bulan belakangan.

PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA), salah satunya. Apalagi, emiten ini juga memiliki pabrik biodisel. Analis Paramitra Alfa Sekuritas William Siregar menyebut keuntungan Tunas Baru Lampung tentu akan lebih besar dibandingkan dengan emiten perkebunan lainnya yang tidak memiliki pabrik biodisel.

"Jadi, Tunas Baru Lampung ini memiliki lahan atau kebun sawitnya dan pabrik biodiselnya," ungkapnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (27/8).


Selain Tunas Baru Lampung, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) juga memiliki pabrik biodisel. Hanya saja, William enggan merekomendasikan saham tersebut karena tidak liquid.

Artinya, jumlah permintaan dan penawaran saham Sinar Mas Agro Resources and Technology di pasar reguler tidak sebanding.

Terbukti, pergerakan Tunas Baru Lampung pada akhir pekan lalu terlihat lebih agresif dibandingkan dengan Sinar Mas Agro Resources and Technology.

Bila saham Tunas Baru Lampung melambung sampai 7,46 persen ke level Rp1.080 per saham, saham Sinar Mas Agro Resources and Technology justru relatif stagnan di level Rp4.200 per saham.


"Saham Tunas Baru Lampung masih bisa ke level Rp1.700 per saham untuk jangka panjang atau sampai akhir tahun ini," jelasnya.

Sayangnya, kinerja keuangan perusahaan pada paruh pertama tahun ini terbilang menurun dari segi pendapatan maupun laba bersih.

Perusahaan membukukan pendapatan pada semester I 2018 sebesar Rp4 triliun, turun 5,67 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp4,24 triliun.

Alhasil, laba bersih perusahaan per Juni 2018 hanya Rp351,8 miliar. Angka itu anjlok 30,33 persen dari Rp505 miliar.

Saham CPO dan Perbankan Gugah Selera Investasi di Bursa SahamIlustrasi biodiesel. (REUTERS/Beawiharta).

Makanya, lebih jauh William menilai sentimen kebijakan B20 untuk Tunas Baru Lampung hanya bersifat sementara. Setelah B20 untuk nonsubsidi diimplementasikan, pasar akan melihat apakah hal itu bakal mengerek kinerja perusahaan secara drastis atau tidak.

"Nanti akan dibuktikan pada kinerja keuangan kuartal III 2018, tapi untuk sekarang pelaku pasar bisa transaksi jangka pendek," terang dia.

Koleksi Saham Perbankan

Pelaku pasar juga memiliki opsi lainnya berupa saham-saham berkapitalisasi besar (big capitalization/big cap) di sektor perbankan.

Analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengatakan saham perbankan biasanya akan menjadi saham pertama yang menanjak ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bangkit (rebound) seperti ini.


"Yang bisa dicermati misalnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (Persero) (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (Persero) (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (Persero) (BBNI)," papar Valdy.

Saat ini, IHSG semakin mendekati level 6.000 setelah sempat terkoreksi cukup dalam hingga di area 5.700. Dalam pekan lalu, IHSG tercatat naik lebih dari tiga persen atau bangkit dari pekan sebelumnya yang melemah sampai empat persen.

"Sekarang IHSG sedang dalam masa pemulihan, empat saham itu juga valuasinya sudah murah," imbuhnya.

Keempat saham itu ikut terperosok ke jurang pelemahan saat IHSG sedang melemah dua pekan lalu. Beruntung, dua dari empat saham perbankan yang direkomendasikan sudah bergerak di zona hijau pada akhir pekan lalu.


Dua saham tersebut, yakni saham BCA yang menguat 2,03 persen ke level Rp25.075 per saham dan BRI yang bertahan di level Rp3.270 per saham.

Kemudian, untuk saham Bank Mandiri dan BNI masing-masing terkoreksi 1,09 persen ke level Rp6.775 per saham dan 1,66 persen ke level Rp7.425 per saham.

Selain itu, Valdy juga optimistis penyaluran kredit nasional masih akan menanjak hingga akhir tahun di tengah potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada September dan Desember 2018.

"Bulan Juni kemarin kan sudah naik 10 persen," kata Valdy.


Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit nasional periode Juni 2018 naik 10,5 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp4.992 triliun.

Menurut Valdy, pendanaan dari perbankan terlihat masih cukup tinggi, meski The Fed nantinya benar-benar menaikkan suku bunga The Fed dua kali lagi sampai akhir tahun ini.

"Apalagi, realisasi investasi di Indonesia juga meningkat, itu sejalan nanti mereka mencari pendanaan dari perbankan," tandasnya.


(bir)

Let's block ads! (Why?)

Belum ada Komentar untuk "Saham CPO dan Perbankan Gugah Selera Investasi di Bursa Saham"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel