Harga Minyak Menguat Dipicu Kekhawatiran Pasokan di Dunia

Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia menguat sepanjang pekan lalu. Penguatan dipicu oleh proyeksi berkurangnya pasokan global dari Iran, seiring dengan akan diberlakukannya sanksi-sanksi ekonomi oleh Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.

Dilansir dari Reuters, Senin (27/8), harga minyak mentah Brent menguat sekitar 5,3 persen selama pekan lalu menjadi US$75,82 per barel. Penguatan terjadi setelah pelemahan selama tiga pekan berturut-turut.

Kemudian, harga minyak mentah Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) juga menguat lebih dari empat persen menjadi US$68,72 per barel, paska tertekan selama tujuh pekan.

"Kedua harga minyak acuan berada di jalur yang tepat untuk mengakhiri penurunan harga mingguan yang terus terjadi. (Kenaikan) ini disebabkan oleh mengetatnya proyeksi fundamental yang utamanya berasal dari berkurangnya pasokan dari Iran," terang Analis PVM Oil Associates Stephen Brennock.


Kekhawatiran terhadap eskalasi perang dagang AS-China yang dapat menahan laju pertumbuhan ekonomi dan menekan permintaan minyak mentah mulai mereda. Sumber Reutes menyatakan perusahaan China Unipec akan kembali membeli minyak mentah dari AS pada Oktober, setelah dua bulan tertahan karena perang dagang antara keduanya.

Kemudian, pelaku pasar khawatir pemerintahan Meksiko yang akan datang tidak akan melakukan perjanjian bilateral di atas NAFTA dengan AS. Hal ini membebani pasar.

Berdasarkan sumber Bloomberg yang dikutip Reuters, sengketa soal pembukaan sektor minyak dan gas menjadi beban dalam negosiasi yang dilakukan kedua negara.

Di saat bersamaan, kekhawatiran terhadap pasokan global meningkat karena munculnya tanda-tanda bahwa sanksi AS terhadap Iran mulai memangkas pengiriman ekspor.


Pemerintah AS mengenakan kembali sanksi kepada Iran pada bulan ini setelah AS keluar dari perjanjian nuklir yang diteken pada 2015 lalu. Menurut pemerintah AS, perjanjian tersebut tidak cukup untuk mengurangi aktivitas Iran di Timur Tengah dan membuat bom atom. Iran menyatakan tidak memiliki ambisi untuk membuat senjata nuklir seperti itu.

Iran merupakan produsen minyak terbesar ketiga Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dengan pasokan sekitar 2,5 juta barel per hari (bph) minyak mentah dan minyak kondensat tahun ini. Pasokan Iran setara dengan 2,5 persen dari konsumsi global.

"Laporan pihak ketiga mengindikasikan muatan kapal tanker Iran telah merosot sekitar 700 ribu bph pada paruh pertama Agustus dibandingkan Juli, dan jika bertahan akan melebihi sebagian besar perkiraan," tulis bank investasi AS Jefferies dalam catatannya.

Jefferies memperkirakan pada kuartal IV 2018, pasar akan menghadapi kekurangan pasokan, berkurangnya kapasitas cadangan atau keduanya.


Konsultan energi FGE memperkirakan ekspor minyak mentah dan kondensat Iran bakal merosot ke level 1 juta bph pada medio 2019.

Di sisi lain, pelemahan kurs dolar AS menjadi faktor penguat harga minyak. Pekan lalu, kurs dolar melemah terhadap mata uang negara lain membuat harga minyak menjadi relatif murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Pelemahan dolar AS terjadi setelah Gubernur Bank Sentral AS The Federal Reserves Jerome Powell menyatakan kenaikan suku bunga secara stabil merupakan cara terbaik untuk melindungi pemulihan ekonomi AS.

Berdasarkan data perusahaan layanan energi Baker Hughes, perusahaan energi AS juga memangkas sembilan rig minyak pada pekan lalu, pengurangan rig terbesar sejak Mei 2016. Sebagai catatan, perubahan jumlah rig menjadi indikator tren produksi mendatang.


Selanjutnya, perhatian pedagang minyak terarah ke Laut Utara di mana pekerja di tiga lapangan minyak dan gas berencana menggelar aksi mogok pada bulan depan. Produksi minyak akan berhenti selama pemogokan. Ketiga lapangan tersebut berkontribusi sekitar 45 ribu hingga 50 ribu bph ke aliran minyak mentah Brent dan Forties Laut Utara.

Sementara, manajer keuangan memangkas penempatan pada kontrak berjangka di posisi harga minyak mentah AS bakal naik, ke level terendah sejak pertengahan Juni.

Berdasarkan data Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi AS (CFTC), kelompok spekulator memangkas kombinasi kontrak berjangka dan opsi di New York dan London sebesar 1.723 kontrak menjadi 341.132 pada 21 Agustus lalu.

Spekulator untuk harga kontrak berjangka Brent juga memangkas posisi beli bersih pada pekan pekan yang sama sebesar 11.985 menjadi 324.431 kontrak, terendah selama lebih dari setahun.


(bir)

Let's block ads! (Why?)

Belum ada Komentar untuk "Harga Minyak Menguat Dipicu Kekhawatiran Pasokan di Dunia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel